Laman

Selasa, 26 Juni 2012

Tafsir Surat Al Waqi’ah



Tafsir Surat Al Waqi’ah

Surat ini digolongan sebagai surat-surat pendek, pada Hakikatnya temanya sama dengan surat al-Zalzalah yang penekanannya ditujukan pada suasana hari kiamat dan penyerahan buku amal perbuatan manusia, bahkan dalam tafsir ibnu katsir dikatakan bahwa salah satu makna surat al-Waqi’ah adalah az-Zalzalah. Penjelasan dalam surat Al- Waqi’ah lebih mendetail dan rinci tentang hari kiamat, hari akhir, tentang surga dan neraka. Surat al-Waqi’ah ini tergolong Surat Makkiyah, yang menjelaskan tentang keimanan kepada hari akhir. Keimanan yang sangat penting bagi seorang mukmin dan diantara rukun Iman yang enam adalah Iman kepada Allah dan Hari Akhirat. Dalam surat Al Baqarah ayat 177 disebutkan bahwan Iman kepada Allah itu digandengkan dengan Iman kepada Hari Akhir.


“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah dan hari Kemudian”

Bukan saja pengandengan itu disebutkan dalam al-Qur’an saja tetapi di dalam hadits-hadits Rasulullah Saw juga menyatakan demikian, dengan kalimat:
من كان يؤمن بالله واليوم الاخر……..

Karenanya, keyakinan kepada akhirat ini sangat ditekankan. Dengan kata lain peningkatan ibadah itu tergantung pada keimanan kita terhadap hari akhirat. Allah Swt menyebutkan di dalam surat al-Munafiqun bahwa ketika manusia sedang dalam keadaan sakaaratul maut, seorang itu semakin ingin melakukan kebaikan dan beramal sholeh. Sebagaimana Allah firmankan:

“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku Termasuk orang-orang yang saleh?. Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan.”

Dengan demikian, kita sering menjumpai bila ada peristiwa kematian, kecendrungan manusia yang masih hidup untuk beramal sholeh menjadi meningkat. Ia sadar bahwa jenazah itu perlu dibekali dengan amal shaleh. Kita saksikan ada yang dingajikan sampai berbulan-bulan, berminggu-minggu, bahkan ada sampai yang bertahun-tahun untuk orang yang meninggal tadi. Karenanya dapat ditarik kesimpulan bahwa peristiwa kematian seseorang diantara kita ini sangat penting untuk memantapkan keyakinan dan keimanan kita terhadap akhirat.

Diceritakan di zaman Rasulullah saw, ada kebiasaan umum di kalangan para sahabat ketika mereka sedang berkumpul di masjid atau dimanapun, mereka mendiskusikan hal yang paling penting dalam kehidupan mereka, yaitu mereka mendiskusikan tentang akhirat. Suatu kali Rasulullah Saw masuk ke dalam masjid dan bersamaan dengan kedatangan Nabi didapati para sahabat sedang berdiskusi. Kemudian Rasulullah Saw bergabung dan bertanya kepada mereka: ”Kalian sedang berdiskusi tentang apa?” Mereka menjawab: ”Kami sedang berdiskusi tentang hari kiamat”.
Seorang shahabat yang bernama al-Harits mengungkapkan, ketika Ia ditanya oleh Rasulullah Saw: ”Apa kabarmu hari ini wahai Haris?” Ia menjawab: Iman saya hari ini mantap sekali ya Rasulullah, seakan-akan saya melihat penghuni syurga itu saling menziarahi, dan penghuni neraka itu sedang menjerit-jerit dan meminta pertolongan”. Dengan riwayat ini kita menyaksikan bahwa para shahabat Rasulullah Saw sangat peduli dan memperhatikan kehidupan ba’da dunia yaitu kehidupan akhirat.

Penulis dan ulama muslim DR. Nu’aim Yassin menulis buku yang berjudul tentang keimanan, hakikatnya, rukun-rukunnya, dan hal-hal yang membatalkan keimanan. Dalam bukunya ia menulis bahwa ia memperhatikan al-Qur-anul Karim yang standar yang terdiri dari 604 halaman, kita sering menyebutnya dengan ’al-Qur-an Madinah’, dikatakan oleh beliau bahwasannya tidak ada satu halamanpun dalam halaman Al Qur-an yang tidak membicarakan tentang akhirat, bahkan ada dalam satu halaman yang sepenuhnya membicarakan tentang akhirat.

Keutamaan Surat Al Waqi’ah

Pertama, dari Abdullah bin Abbas, dari Abu Bakar siddiq ra berkata: ”Ya Rasulullah engkau nampak sudah beruban, lalu rasul menyauti pertanyaan Abu Bakar itu dengan jawaban: ”yang membuat saya sampai beruban adalah surat Hud, al-Waqi’ah, al-Mursalat, An-Naba dan surat At-Takwir.” (HR. Tirmizi).

Jika dalam Surat Hud pesan intinya adalah pesan istiqomah, Surat yang lainnya itu menjelaskan tentang kiamat dan Hari Akhirat. Surat-surat inilah yang menjadi penyebab Rasulullah Saw sampai rambutnya ubanan, dengan kata lain Rasul Saw memikirkannya dengan sangat serius tentang pentingnya akhirat ini, begitu pula tentang pentingnya keimanan pada hari akhirat di hati umat, serta pentingnya istiqomah terhadap keimanan. Rasulullah Saw berpikir serius terutama tentang tema-tema akhirat, sebaliknya kita juga ubanan karena memikirkan tentang urusan dunia bukan urusan akhirat. Mungkin ada orang yang berpikir sampai ubanan tapi kualitas ubannya sangat rendah. Bisa jadi berpikirnya bukan pada hal-hal yang strategis. Namun dengan memikirkan akhirat itu jauh lebih strategis dibanding memikirkan dunia sebagaimana diisyaratkan Allah Swt dalam surat al-Muzammil. ”Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak). Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadatlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan.”

Dijelaskan dalam satu ayat Al Qur’an diatas ”hampir saja kamu membinasakan dirimu”, karena orang yang didakwahkan itu belum mau beriman. Sampai-sampai Rasulullah Saw sangat sedih sekali pada orang yang belum menerima dakwah karena beliau yakin betul tentang azab akhirat yang begitu dahsyat sehingga timbul rasa kasihan pada orang yang belum mau menerima dakwah itu.

Kedua, tergambar dalam dialog Utsman bin Affan dengan Abdullah bin Mas’ud. diceritakan dari Abu tayibbah katanya ”suatu ketika Abdullah ibnu Mas’ud sakit parah menjelang kematiannya, saat itu ia dijenguk oleh Utsman bin Affan, lalu Utsman bertanya: ”apa yang sedang kamu keluhkan?”, Ibnu mas’ud menjawab: ”yang sedang saya keluhkan adalah dosa-dosa saya”,

Dari cerita ini dapat difahami bahwa sebenarnya bukan dia tidak merasakan sakit, tapi karena pikirannya terkonsentrasi terhadap akhirat maka yang nampak di permukaan bukan ungkapan pada sakit badannya melainkan keluhan pada dosa-dosanya. Padahal Ibnu Mas’ud adalah Shahabat yang sangat dekat dengan Rasulullah Saw, dikenal sebagai sahabat yang selalu menyertai Rasulullah Saw kemanapun saja ia pergi. sampai dia katakan: ”Seandainya ada orang yang lebih tahu tentang Al Qur’an, maka saya bisa mengejarnya dengan unta, pastilah saya akan mengejarnya dengan onta. Kemudian Utsman bertanaya lagi: ”apa yang engkau ingikan?”, Ibnu Mas’ud menjawab:”Rahmat dan kasih sayang Allah itulah yang saya inginkan”, sebab seseorang dapat memasuki sorga bukan karena amalnya, walaupun itu Rasulullah Saw, karena Allah akan melimpahkan rahmat-Nya kepada manusia. Lalu Utsman bertanya lagi: ”apakah perlu saya panggilkan tabib”. Ungkapan ini bukan sekedar basa-basi, apalagi Utsman yang dikenal dermawan dan sahabat senior yang sangat dekat dengan Rasul Saw. Ibnu Mas’ud melanjtkan: ”tabib itu akan semakin membuat saya bertambah sakit”, Barangkali karena Ibnu Mas’ud sudah merasakan tanda-tanda wafatnya sebentar lagi, Utsman pun bertanya lagi: ”atau saya berikan saja kamu sejumlah uang,” Abdulah bin Mas’ud menjawab: ”saya tidak menginginkan uang itu”. karena Rasulullah Saw menjelaskan bahwa tangan yang di atas itu lebih baik dari pada tangan yang di bawah.

Padahal Ibnu Mas’ud bila dilihat kondisi ekonominya itu biasa-biasa saja, yang mapan itu adalah istrinya yang profesinya sebagai pengusaha. Suatu kali ketika istrinya hendak membayar zakat, Rasulullah mengatakan kepada istrinya: ”kamu juga bisa membayar zakat untuk Ibnu Mas’ud”, lalu Utsman bin Affan bertanya: ”apabila kamu tidak mau menerimanya, ini bisa diberikan kepada anak-anakmu setelah sepeninggalan kamu nanti. Ibnu Mas’ud menjawab: ”apakah kamu khawatir anak-anak saya nanti akan jatuh miskin, saya telah memerintahkan pada anak-anak saya yang semuanya wanita itu agar mereka membaca surat al-Waqi’ah setiap malam karena aku telah mendengar Rasulullah Saw bersabda: ”Barang siapa yang membaca surat al Waqi’ah setiap malam selamanya dia tidak akan jatuh miskin,”

Banyak hal yang menarik dari kisah Ibnu Mas’ud ini bahwa ia yakin dengan sepenuhnya dengan perkataan Rasulullah Saw itu di atas tadi, keyakinannya kepada Rasulullah Saw dan kepada Allah itu sangatlah tinggi dan penuh tawakal.
Allah Swt menerangkan dalam salah satu firmannya ”diatas itu rezeki kamu dan apa-apa yang ada untuk kamu” begitu pula diceritakan pada surat 16 ayat 120-123,

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. dan sekali-kali bukanlah Dia Termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan), (lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah. Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus.Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia. dan Sesungguhnya Dia di akhirat benar-benar Termasuk orang-orang yang saleh.Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif” dan bukanlah Dia Termasuk orang-orang yang mempersekutukan tuhan.”

Kalau sejenak kita membaca kisah Maryam dalam al-Qur’an, Maryam dahulu sampai Nabi zakariya pun terheran-heran ketika mendapat rezeki yang begitu melimpah dari Allah Swt. Hal ini juga yang terjadi dengan kisah Abdullah bin Mas’ud diatas tadi dan keyakinannya kepada Allah dan Rasul-Nya amatlah tinggi.

Disamping dijelaskan tadi keutamaan surat al-Waqi’ah, dianjurkan pula membacanya setiap malam. Disebutkan dalam riwayat lain dengan penambahan redaksi hadits dengan ”Barang siapa yan membaca surat al-Waqi’ah pada setiap malam” anjurannya dengan membaca tiap malam, hal ini sesuai dalam surat al-Mujammil yang mana ibadah dengan membaca Al Qur’an yang dilakukan pada waktu malam hari lebih memberikan sentuhan.

Ketiga, dijelaskan dari Jabir bin Samurah bahwa Rasulullah Saw melakukan shalat-shalatnya sama seperti yang kalian lakukan saat ini akan tetapi Rasulullah Saw itu lebih memendekan bacaannya ketika sholat. Yang dikatakan surat-surat pendek itu dimulai dari surat al-Hujurat sampai dengan surat an-Naas. Namun ketika melaksanakan shalat subuh beliau membaca surat al- Waqi’ah dan surat yang sejenisnya.

Tadi Ibnu Mas’ud menjelaskan tentang membacanya, tidaklah difahami tentang bacaannya saja. karena pada zaman sahabat dahulu ketika diperintahkan untuk membaca itu termasuk di dalamnya menghafal, memahami dan mengamalkannya. Karenanya keberkahan dan kebaikan itu akan diberikan kepada Allah Saw kepada hamba-Nya dengan berlimpah dengan syarat dipahami dan diikuti segala tuntunannya sebagaimana dijelaskan ayat di atas tadi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar